Senin, Desember 14, 2009

Disfungsi Ereksi Dialami 15%-20% Pria Menikah

SEBUAH survei di Asia Pasifik mengungkap lebih dari separuh pria dan wanita mengaku kurang puas dengan kehidupan seksual mereka. Salah satu penyebabnya adalah gangguan ereksi pada pria.

Seks adalah kebutuhan biologis sekaligus hak asasi bagi setiap manusia. Kehidupan seksual yang bermutu tak sekedar kemampuan melakukan hubungan seks atau terpenuhinya kebutuhan seks, tak kalah penting adalah kepuasan seksual. Sayangnya, banyak pria dan wanita yang kesulitan menggapainya.

Sebuah penelitian bertajuk APSHOW (Asia Pacific Sexual Health and Overall Wellness) yang dilakukan pertengahan tahun lalu mendapati kenyataan bahwa 57 persen pria dan 64 persen wanita tidak merasa sangat puas dengan kehidupan seksual mereka.

Survei melibatkan 3.957 responden dari 13 negara kawasan Asia Pasifik, termasuk Indonesia yang mengirimkan data responden sebanyak 328 pria dan 250 wanita. Responden dipilih dari kelompok usia 25-74 tahun dan aktif secara seksual (setidaknya pernah berhubungan seksual dalam setahun terakhir).

Salah satu temuan kunci dari penelitian yang dilakukan Harris Interactive dengan sponsor PT Pfizer Global Pharmaceuticals itu adalah perihal gangguan ereksi pada kaum Adam. Dilaporkan bahwasanya tingkat pencapaian kepuasan yang merujuk pada tingkat kekerasan ereksi merupakan kunci untuk mencapai kepuasan dalam kehidupan seksual, cinta dan kasih sayang, kehidupan berumah tangga dan penerimaan diri sebagai pasangan. Ini berlaku untuk semua pria dan wanita.

Ketua Asosiasi Seksologi Indonesia, Prof Dr dr Wimpie Pangkahila SpAnd FAACS, mengungkapkan bahwa banyak kasus perceraian pada pasangan menikah yang berpangkal dari masalah seks yang tidak terungkap sebelumnya. Salah satu penyebab adalah disfungsi ereksi (DE), yakni ketidakmampuan pria mencapai atau mempertahankan ereksi penis yang memadai untuk melakukan hubungan seksual yang memuaskan.

"Di Indonesia, diperkirakan 15 persen-20 persen pria menikah mengalami DE, mulai derajat ringan hingga berat," ujar Wimpie dalam diskusi media yang diselenggarakan PT Pfizer Indonesia di Jakarta, baru-baru ini.

Guru Besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana Bali itu menegaskan, penyebab terbanyak DE adalah masalah fisik seperti kolesterol tinggi atau mengidap penyakit terkait pembuluh darah semisal diabetes, hipertensi, dan penyakit jantung koroner.

Bobot badan berlebih alias obesitas juga dapat memengaruhi sistim hormonal dan meningkatkan risiko DE. Adapun penyebab psikis misalnya adanya hambatan komunikasi, ketidakpengertian, maupun suasana monoton yang dapat memicu kejenuhan di antara pasangan menikah.

"Apapun penyebabnya, ini bukanlah berita baik. Masalah seks juga bukan DE semata, ada juga yang bermasalah dengan gairah, bangkitan seks, serta ejakulasi dini pada pria atau ketidakmampuan mencapai orgasme pada wanita," paparnya.

Menanggapi hasil APSHOW, psikolog yang juga pemerhati masalah hubungan komunikasi pasangan Zoya Amirin M Psi mengemukakan bahwa tingkat kepuasan seksual yang menurun karena masalah disfungsi ereksi bukan masalah di tempat tidur pasangan semata.

Kepuasan seksual juga bukan merupakan masalah pria saja karena wanita juga memiliki keinginan yang sama. "Kepuasan seksual memberikan rasa penghargaan dan penerimaan atas diri, kenyamanan dan rasa saling berbagi antar pasangan. Komunikasi yang terbuka merupakan kunci yang harus dijaga bersama," saran dia. Akan tetapi, sangat disayangkan bahwasanya hanya sedikit kasus DE yang terungkap dan mendapat penanganan medis yang tepat.

"Sekitar 13 persen penderita sudah tanggap informasi dan mau mencari pengobatan yang benar, sedangkan sebagian besar lainnya menutup diri karena tidak mengerti, malu, mengganggap bukan penyakit dan juga kemungkinan karena dokter yang menangani tidak siap," beber Wimpie yang prihatin karena pria DE biasanya kehilangan rasa percaya diri dan harga diri yang berakibat terganggunya kualitas hidup.

Mengingat banyaknya pria yang melakukan self-medication untuk mengatasi gangguan seksualnya, Wimpie mengingatkan masyarakat agar berhati-hati dalam memlih produk obat erektogenik ataupun produk yang mengatasnamakan herbal. "Banyak produk viagra yang palsu. Untuk obat herbal sendiri, tidak ada satupun obat herbal yang betul-betul murni herbal, yang efektif mengatasi DE," tandasnya.

Periksa Sendiri Kualitas Ereksi
Kekerasan ereksi menjadi penting karena terkait kepuasan seksual kedua belah pihak. Penis yang keras seluruhnya dan tegang sepenuhnya atau diilustrasikan seperti buah ketimun adalah kondisi ereksi yang ideal. Hal ini pulalah yang sesungguhnya didambakan para pria yang mengalami DE, yakni penis yang sepenuhnya keras dan tegang; kekerasan ereksi yang bertahan lama; kemampuan untuk memuaskan pasangan dan diri sendiri, serta kepercayaan diri.

Erection Hardness Score (EHS) yang dikembangkan oleh Pfizer berdasarkan temuan ahli, merupakan sarana pemeriksaan mandiri untuk mengevaluasi tingkat kekerasan ereksi pribadi dan pasangan. Untuk memudahkan, digunakan ilustrasi tapai, pisang, sosis dan ketimun, yang merujuk pada skala kekerasan ereksi 1-4. Skala 1 adalah tapai yang menggambarkan kondisi di mana penis membesar tapi tidak keras. Skala 2 yang diwakili pisang berarti penis keras, tetapi tidak cukup keras untuk melakukan penetrasi.

Sementara pada skala 3, penis cukup keras untuk melakukan penetrasi tetapi tidak sangat keras (suboptimal) atau diibaratkan seperti sosis. Adapun penis keras dan tegang secara sempurna adalah kondisi ereksi optimal.

Penelitian APSHOW menunjukkan bahwa pria dengan kekerasan ereksi optimal (EHS skala 4) lebih sering melakukan hubungan seksual, dan lebih merasa puas serta memiliki pola pikir yang positif atas kehidupan dibandingkan dengan pria yang hanya mencapai EHS skala 3 atau suboptimal.
(lifestyle.okezone.com)

Usia Bertambah, Sensitivitas Mr P Berkurang

Mr P punya siklus kehidupan biologis. Seiring pertambahan usia, faktor fisik dan kemampuannya bertempur di ranjang berkurang.

Menurut WebMD, usia antara 40-70 tahun, persentase kekuatan pria menurun dari 60 persen hingga 30 persen.

Sejumlah kajian menunjukkan, sensitivitas Mr P berkurang perlahan. Hal ini mengakibatkan Mr P kesulitan mencapai ereksi dan orgasme.

Apakah kondisi tersebut membuat orgasme kurang memuaskan, hingga kini masih mengundang pertanyaan.

Namun, satu studi yang melibatkan 2213 pria di Olmstead County, Minnesota menunjukkan hasil, terjadi pengurangan fungsi ereksi, libido, dan fungsi ejakulasi secara signifikan, tapi hanya sedikit pada pengurangan kepuasan seksual.

Setidaknya, para ahli mengatakan, perubahan ini mengharuskan Anda untuk mengubah kehidupan erotis bersama pasangan.

"Pria yang usianya semakin tua kemungkinan kurang memahami bahwa berkurangnya kepuasan seks adalah sebuah masalah," kesimpulan penulis kajian.

"Ramuan paling penting dari kepuasan kehidupan seks adalah kemampuan untuk memuaskan pasangan. Dan, hal tersebut tidak mensyaratkan puncak performa seks atau Mr P berukuran besar," ucap Irwin Goldstein MD, Director Sexual Medicine Alvarado Hospital di San Diego. (lifestyle.okezone.com)

Pikiran Liar selama Bergumul

PENGETAHUAN seputar aksi foreplay, afrodisiak, dan posisi seks yang siap menggugah hasrat seks, Anda pasti sudah sangat paham. Tapi, pernahkah Anda tahu, apa yang sebaiknya dipikirkan selama bercinta?

"Pikiran fokus pada aksi seks membuat gairah Anda tergugah. Dengan demikian, performa Anda juga bertambah baik. Mungkin bukan hal mudah untuk tetap berpikir tentang hal yang sama," ucap Dr Amit Agarwal, seksolog asal Mumbai, India, seperti dikutip dari Times of India.

Ia menambahkan, untuk membuat pikiran tentang fokus selama bercinta, Anda bisa memanfaatkan berbagai cara, mulai dari novel erotis hingga ilmu Kamasutra. Hal tersebut juga siap memperkaya pengalaman seks Anda dan pasangan.

"Jadi, libatkan berbagai variasi dalam pikiran Anda dan biarkan hal tersebut mengembara dengan bebasnya, tapi tetap jaga seks sebagai hal utama," tutur Agarwal.

Berikut daftar beberapa hal menakjubkan yang sebaiknya Anda pikirkan selama bercinta yang bisa membawa Anda pada surga cinta.

The Big O
Berpikir tentang mencapai klimaks selama bercinta adalah hal menarik. Selama bergumul menuju puncak, jaga momen the Big O dalam pikiran untuk membantu mengaktifkan gairah.

Fantasi-fantasi seks
Berbagi fantasi seks meningkatkan kesenangan seks. Pikirkan fantasi Anda selama bercinta sebagai jalan terbaik untuk menambah kekuatan performa. Selama ngeseks, biarkan hasrat seks berkeliaran dalam pikiran. Tingkat kegembiraan akan lebih daripada yang Anda bayangkan.

Pengalaman seks
Mengingat kembali aksi seks Anda yang paling menyenangkan, bagaikan petualangan di alam liar yang akan mengundang mood bercinta. Cukup berpikir tentang apa yang telah Anda lakukan di malam-malam sebelumnya. Pikirkan bagaimana desahan pasangan terakhir kali Anda memberinya orgasme.

Menghabiskan waktu romantis
Mengingat momen indah bersama pasangan akan menambah kebahagiaan dalam kehidupan seks Anda. Bukan sekadar Anda berpikir tentang adegan ranjang, tapi juga momen spesial, tanggal-tanggal bersejarah, dan sebagainya. Hal tersebut bisa menguatkan ikatan cinta Anda bersama pasangan. Ujung-ujungnya, memberi manfaat untuk seks hebat. (lifestyle.okezone.com)