Sabtu, Juli 31, 2010

Kondom Perempuan untuk Melawan Epidemi HIV

Meski sempat gagal diterima masyarakat, kondom perempuan kembali dipromosikan di Washingoton DC. Tujuannya tak lain untuk menekan epidemi HIV/AIDS.

Charlene Cotton akan berbicara kepada siapa pun tentang seks. Beberapa hari dalam sepekan, dia berdiri di belakang meja dihiasi dengan semangkuk kondom berbagai rasa dan pamflet tentang seks aman. Ia menyapa setiap perempuan yang lewat di tepi jalan, "Datanglah ke mejaku. Jangan takut."

Dia lalu bertanya, "Apakah Anda mendengar tentang kondom perempuan?"

Kemudian, untuk menunjukkan cara kerjanya, dia mengambil alat peraga berupa kondom dan model anatomi tubuh manusia.

Percakapan soal ini sebenarnya cukup canggung untuk dilakukan di tepi jalan. Namun Cotton tidak malu. Dia bagian dari upaya kota Washington DC untuk mempromosikan kondom perempuan. Harapannya, keterlibatan mereka dapat membantu menghentikan penyebaran HIV di Washington, yang memiliki tingkat infeksi tertinggi di AS.

Sekelompok anggota masyarakat juga membagi-bagikan 500.000 kondom perempuan, kantong fleksibel yang lebih luas daripada kondom laki-laki tapi sama panjang, selama sesi instruksi di salon kecantikan, tukang cukur, gereja, dan restoran.

Kondom perempuan dijual di sejumlah toko obat di Columbia, Meski kurang laris, namun Washington merupakan satu-satunya kota yang memungkinkan orang bisa mendapatkan kondom perempuan di luar klinik kesehatan. Pejabat kota pun mulai berpromosi, seperti melalui situs web, poster, 460 bus yang merupakan sepertiga dari armada kota.

Iklan menampilkan sepasang manusia yang sedang berpelukan dengan memegang paket kondom wanita. Promosi ini akan berlangsung selama tiga bulan ini. "Kondom perempuan dengan titik kenikmatan untuknya. Ayo, cobalah," desak iklan.

Pertanyaannya adalah jika promosi berlangsung efektif, berarti para wanita akan menggunakan kondom?

Ini adalah pertanyaan penting di Washington.

Sebuah studi pada 2009 menemukan fakta sekitar 3% dari populasi kota yang berusia di atas 12 mengidap HIV atau AIDS. Itu sebuah epidemi yang parah, menurut Pusat Pengendalian dan Pencegahan HIV/AIDS, yang menganggap epidemi 'parah' ketika lebih dari satu persen dari penduduk yang terkena dampak.

Washington DC bukan kota pertama yang mendistribusikan kondom perempuan. New York City telah lebih dahulu mempromosikan kondom perempuan, tepatnya sejak 1998. Sekelompok masyarakat di sana membagi-bagikan sekitar 930.000 kondom, beberapa tahu lalu.

Badan Pengawas Obat dan Makanan AS (FDA) telah menyetujui kondom perempuan pada 1993. FDA memperkirakan bahwa hanya hanya 1-2% perempuan yang mencoba alat kontrasepsi ini.

Ini terjadi karena versi asli kondom perempuan tidak populer. Pengguna mengeluh soal harga yang bisa mencapai US$3,60 untuk satu kondom. Hal lainnya adalah bahan baku kondom mengingatkan mereka dengan sarung tangan pemeriksaan dokter, dan mereka khawatir kondom ini akan berkerut seperti kantong plastik yang sedang digunakan.

Itu terjadi sekitar setahun lalu. Namun kini FDA menyetujui versi baru yang disebut kondom FC2 itu. Kondom perempuan ini terbuat dari bahan sintetis Nitrile. Harganya lebih murah, atau sekitar US$2 per kondom. Selain itu, kondom perempuan ini tidak berisik ketika digunakan.

Namun, itu lebih mahal daripada kondom laki-laki tradisional. Banyak wanita yang baru pertama kali melihatnya merasa terintimidasi oleh ukuran kondom, dan merasa tidak nyaman dengan ide memasukkan kondom itu ke liang vagina.

Sebuah kondom perempuan sama efektifnya dengan kondom laki-laki dalam mencegah kehamilan, HIV dan penyakit seksual menular lainnya. Namun kondom perempuan menutupi 'wilayah' lebih menyeluruh dan memberikan perlindungan lebih luas.

Kondom ini bisa dimasukkan hingga delapan jam sebelum hubungan seksual. Dan, yang paling penting, memungkinkan seorang wanita mengendalikan perlindungan alat kelaminnya.

Theresa Exner, seorang ilmuwan yang telah melakukan penelitian tentang kondom perempuan mengatakan, mempromosikan kondom wanita bisa rumit. Namun studi menunjukkan bahwa mempromosikan kondom perempuan bisa meningkatkan penggunaan kondom laki-laki secara keseluruhan.

Di Indonesia, penggunaan kondom perempuan pernah disosialisasikan di Papua, beberapa tahun lalu. Namun hingga kini tak terdengar lagi kabarnya. [mor]

Jumat, Juli 30, 2010

Vibrator & Dildo Bikin Miss V Infeksi?

BANYAK pasangan masih takut menggunakan vibrator, tak lain bayangan akan efek samping yang mungkin terjadi. Ada satu informasi mengatakan, vibrator membuat Miss V infeksi. Benarkah?

Keputihan dan bau tidak sedap muncul dari Miss V, bahkan Anda juga merasa nyeri di sekitar alat kelamin. Anda mengira rasa ini muncul akibat benda asing yang masuk ke Miss V, atau lebih parah, vaginosis bakteri (BV). Kalau memang hanya iritasi, Anda tak merasa harus konsultasi medis, tapi kalau memang BV, Anda tahu harus mengonsumsi antibiotik.

Bagi Anda yang masih penasaran dengan vibrator dan kemungkinan efek sampingnya, Dr Vanessa Cullins, ginekolog bersertifikat dan vice president untuk urusan medis di Planned Parenthood Federation of America menjawabnya. Berikut, seperti diulas EMandLO.

Dr Vanessa menegaskan, setiap kali seorang wanita mengalami iritasi Miss V dan kasus abnormal—vaginitis atau vulvovaginitis—, ia harus mengunjungi layanan kesehatan dan melakukan diagnosa. Jika debit keputihan keluar lebih dari biasanya dan memiliki bau menyengat, kemungkinan adalah vaginitis.

Penyebab pertama vaginitis adalah seperti apa yang Anda curigai, yakni BV. BV adalah kondisi yang disebabkan oleh bakteri, termasuk gardnerella vaginalis. BV—yang dulu disebut vaginitis nonspesifik—biasanya menampakkan gejala keputihan berwarna keabu-abuan, berbusa, memiliki aroma tidak sedap bahkan sedikit amis. Kebanyakan wanita minimal satu kali mengalami BV dalam hidupnya.

BV kadang-kadang disebabkan atau diperparah oleh kontak seksual, yang dapat mengganggu keseimbangan bakteri normal yang melindungi Miss V. Cairan tubuh tertentu, terutama semen, mungkin lebih mengganggu bagi sebagian wanita. Kuman pada dildo atau vibrator juga mungkin memberikan efek yang sama.

Jika Anda mengunjungi layanan kesehatan, diagnosa nantinya dibuat lewat pemeriksaan Miss V dan gangguan yang dialami. Berbagai krim dan gel, serta pengobatan oral dapat digunakan untuk mengobati BV.

Selain vaginitis, ada kemungkinan munculnya iritasi dan keputihan Anda, yakni benda asing yang tertinggal di Miss V. Jika sex toy atau vibrator memiliki bagian yang bisa bergerak atau jatuh, mungkin saat jatuh, masih ada dalam Miss V Anda. Penyedia layanan kesehatan akan memeriksa Miss V Anda untuk memastikan hal ini tidak terjadi. Jika memang terjadi, benda tersebut akan dipindahkan, Miss V dibersihkan dengan larutan pembersih, dan Anda mungkin juga perlu antibiotik, tergantung analisa dokter.

Untuk memastikan gejala, lebih baik konsultasi ke dokter. Sebab ada kemungkinan lain, seperti trikomoniasis, gonorrhea, dan chlymdia. Nyatanya, vaginitis sering tidak menjadi masalah kesehatan utama, tapi kadang bisa serius. Vaginitis juga dapat meningkatkan risiko infeksi HIV, misalnya. Dokter dapat menemukan penyebab masalah Anda dan menawarkan pengobatan yang benar.(ftr)

Kamis, Juli 29, 2010

6 Makanan Sehat tapi Menggemukkan Badan

YAKINKAH makanan sehat yang Anda santap benar-benar menyehatkan? Pastikan Anda tidak tertipu oleh janji muluk yang disampaikan lewat kemasan atau oleh penjual.

Berikut, enam makanan yang kelihatannya menyehatkan, padahal menggemukkan badan, seperti diungkap Eating Well.

1. Salad
Banyak orang menyukai salad. Tentu bagus untuk kesehatan tubuh jika Anda mengonsumsi sayur-sayuran yang terdapat dalam salad. Masalahnya, seperti dikatakan Anne Daly RD, direktur nutrisi dan pendidikan diabetes Springfield Diabetes & Endocrine Center di Springfield, Illinois, terdapat pada topping. Karena itu, sebelum memesan salad, sebaiknya pastikan topping yang diberikan sesuai dengan menu diet Anda.

2. Batangan energi/protein (energy bars)
Protein bar biasanya mengandung protein dan serat-nutrisi yang membantu Anda merasa kenyang—, tetapi juga mengandung banyak kalori. Tak mengapa jika Anda mengonsumsinya sesekali, tetapi kebanyakan kita memperlakukannya sebagai makanan ringan. Kalau Anda ingin memakannya, pilih protein bar yang mengandung sekira 5 gram protein.

3. Granola
Granola terdengar menyehatkan, tapi tak sedikit yang tinggi kandungan lemak, gula, dan kalorinya. Jangan tertipu oleh hitungan kalori yang terlihat masuk akal pada kemasan. Granola rendah lemak biasanya hanya mengganti gula dengan lemak dan mengandung kalori sebanyak versi reguler. Ada baiknya baca label dengan hati-hati.

4. Smoothie
Smoothie seperti cara lezat untuk membantu Anda mengonsumsi porsi buah yang dianjurkan. Namun studi menunjukkan bahwa minuman ini mengandung kalori lebih banyak daripada makanan padat. Beberapa merek smoothie kemasan mengandung kalori sebanyak milkshake.

Lebih baik minum jus buah segar, misal jus jeruk yang memiliki 110 kalori per cangkir. Carilah smoothie yang dibuat dari buah utuh, yogurt rendah lemak, dan tanpa tambahan gula.

5. Yogurt
Yogurt merupakan cara terbaik untuk memenuhi kebutuhan kalsium Anda, tapi tidak semua yogurt dibuat sama. Beberapa yogurt premium dengan kandungan susu full cream dapat menambah tumpukan lemak jenuh di tubuh Anda.

Yogurt rendah lemak rasa buah, tapi "buah" dimaksud adalah selai (di mana sebagian besar mengandung gula). Anda bisa memilih yogurt rendah lemak yang rasanya tawar dan aduk bersama dengan buah segar atau pemanis lainnya sesuai selera Anda (dengan itu Anda akan menggunakan lebih sedikit, sesuai takaran diet).

Perlu diperhatikan, meskipun yogurt merupakan sumber kalsium yang baik, beberapa yogurt lebih sebagai makanan penutup daripada makanan ringan yang sehat. Jangan biarkan lemak dan gula yang ditambahkan ke dalamnya merusak kandungan yang sudah baik.

6. Sushi rolls
Terdapat berbagai macam sushi rolls, bahkan beberapa di antaranya disajikan dengan cara digoreng di mana mayonnaise di dalamnya bisa menambah kalori. Sebagai gambaran, sushi roll berisi belut, ketimun renyah, alpukat, dan “saus belut special” mengandung hampir 500 kalori dan 16 gram lemak (4 gram lemak jenuh).
(ftr)