Sabtu, Februari 19, 2011

Pancarkan Aura Sensual dengan Bra Seksi

SEIRING berjalannya waktu, Anda dan suami cenderung berkutat dengan kesibukan masing-masing hingga berdampak pada urusan ranjang. Sebelum terjadi, gebrak dengan ide nakal.

Berikut, beberapa ide yang akan menginspirasi kehidupan seks Anda dan pasangan, seperti dinukil dari laman Redbookmag.

Kenakan bra seksi
Kenakan setelan bra dan panty seksi Anda di balik kemeja dan celana kerja. Dengan mengenakan pakaian dalam seksi, Anda akan merasa 10 kali lebih seksi! Dengan begitu, aura keseksian yang Anda pancarkan juga dirasakan pasangan.

Tidur dalam keadaan bugil
Kesampingkan piyama Anda malam ini, dan jangan biarkan apapun membatasi kontak Anda dengan sprei. Membiarkan kulit tubuh terkena kain sprei secara langsung akan membuat sensor tubuh mengalami sensasi yang berbeda dan menjadikan Anda merasa lebih nyaman terhadap diri.

Mengambil gambar seksi
Ambil kamera dan berposelah seksi di atas ranjang. Ini tidak hanya mampu mengingatkan suami tentang aksi panas tadi malam, tapi juga baik untuk sensualitas Anda.

Kenakan kaus pasangan
Pakai kaus atau sabun milik suami ketika dia dinas keluar kota supaya Anda merasa selalu dekat dan berhasrat dengan kehadirannya.

Sexting
Teknologi merupakan cara terbaik untuk tetap terhubung. Saat dia berada jauh, mulai dengan mengirimkan kata-kata seperti, “Aku rindu padamu.” Setelah dia membalas, lanjutkan dengan mengirimkan apa yang sebenarnya Anda inginkan begitu dia tiba di rumah nanti.
(ftr)

Jumat, Februari 18, 2011

Menikah Bikin Etika Pria Lebih Baik

KALAU Anda merasakan perubahan sikap setelah menikah, mungkin ada alasannya. Sebab menurut penelitian terbaru, pria menikah perilakunya cenderung kurang agresif dan lebih beretika daripada pria yang belum menikah.

Hasil penelitian dari Michigan State University menunjukkan, alasan pernyataan tersebut sebagian karena pengaruh ikatan pernikahan itu sendiri dan sebagian lagi karena pria antisosial cenderung tak lagi menghabiskan waktu dengan teman-temannya.

Para peneliti menemukan bahwa pria yang sangat antisosial—didefinisikan sebagai pria agresif, kurang memiliki rasa penyesalan, tidak bertanggung jawab, dan menolak hak orang lain—cenderung kurang keinginan untuk terikat dalam pernikahan dibanding pria yang kurang antisosial.

"Gangguan kepribadian antisosial sering disalahpahami sebagai asosial, padahal ini adalah pola perilaku yang mengabaikan dan melanggar hak-hak dan keselamatan orang lain," ujar penulis penelitian S Alexandra Burt, profesor psikologi Michigan State University.

Nah, menikah ditengarai mampu mengurangi kecenderungan antisosial, tegas para peneliti.

"Jika Anda terikat untuk orang lain (seperti pasangan), Anda akan cenderung memerhatikan hak-hak mereka," ujar Burt, seperti dilansir dari Thirdage, Jumat (18/2/2011).

Di sisi lain, kritikan disampaikan psikiater Dr Christos Ballas dari Universitas Pennsylvania dengan menyebutkan bahwa aspek-aspek yang dipelajari dalam penelitian sebagai hal "konyol”.

"Tentu saja, pria menikah berkurang perilaku antisosialnya, bahkan dia tidak memiliki kesempatan untuk terlibat di dalamnya. Bisakah dia pergi keluar setiap akhir pekan untuk clubbing? Bukan karena dia menjadi orang yang lebih baik, tetapi karena institusi pernikahan mengharuskannya untuk lebih sering di rumah," ujar Ballas.

Dalam studi, tim peneliti juga mengamati pasangan kembar identik, satu telah menikah sedangkan lainnya masih single. Mereka menemukan, kembar menikah biasanya menunjukkan perilaku kurang antisosial dari kembarannya yang belum menikah.

Burt berteori bahwa dengan ikatan pernikahan, kita menjadi kurang antisosial karena harus menghabiskan lebih banyak waktu dengan pasangan dan mengabaikan teman-teman antisosial lain yang masih berkutat dengan masalahnya.

"Waktu kita berkurang bersama teman sebaya yang antisosial. Daripada bergaul dengan teman-teman sepanjang waktu, kita memilih dengan istri," imbuhnya.

Dampak positif menjadi suami juga tampak lebih kuat dalam pernikahan yang baik daripada yang buruk, kata para peneliti.

"Semakin kuat dan semakin baik pernikahan, semakin rendah tingkat perilaku antisosial seorang pria," jelas Burt.

Pada akhirnya, penulis penelitian menyimpulkan bahwa hubungan antara pernikahan dan perilaku yang baik tergolong cukup rumit.

"Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa tingkat penurunan perilaku antisosial pada pria menikah lebih rumit dari yang kami pikir sebelumnya," kata Burt.

"Pernikahan umumnya baik untuk pria, setidaknya dalam hal mengurangi perilaku antisosial, tetapi data juga menunjukkan bahwa masuk dalam lembaga pernikahan adalah sesuatu yang harus direncanakan dengan matang,” tegasnya.
(ftr)

Di Balik Kelezatan Coklat, Ini Rahasianya...

Coklat, siapa yang tidak suka? Produk makanan olahan ini kerap dipakai untuk melengkapi berbagai resep.

Selain dapat dikonsumsi langsung, coklat akan terasa lebih nikmat jika digunakan untuk campuran kue, roti, milkshake, atau olesan roti tawar.

Jika Anda penggemar berat coklat, selain memilih berdasarkan merek dan harga, mungkin tips ini akan membantu Anda dalam memilih coklat yang enak. Bahkan Anda akan menemukan coklat favorit Anda sepanjang masa.

Perhatikan bahan
Coklat yang baik adalah yang kandungan coklatnya tinggi. Pilih yang kandungannya antara 50-70%. Hindari kandungan lemak nabati dan rasa buatan. Pilih saja yang mengandung mentega kakao.

Perhatikan juga kandungan gulanya. Kandungan gula yang tinggi menandakan kualitas yang rendah. Sebaiknya pilih kandungan pemanis yang berasal dari gula tebu yang belum diproses, fruktosa atau sirup agave.

Tampilan
Coklat yang bagus seharusnya memiliki warna yang sama dan merata. Pilih warna yang hitam atau coklat mahoni tanpa bercak, noda, retakan atau lubang.

Sentuh dan aroma
Jika Anda memegang sepotong coklat, seharusnya coklat akan segera meleleh dalam beberapa detik. Semakin tinggi kandungan mentega kakao (dalam kadar lemak), maka coklat akan semakin cepat meleleh.

Selain itu, wangi coklat yang enak begitu menakjubkan. Coklat yang baik memiliki aroma yang enak dan tetap, bukan yang terlalu manis, asam atau pahit. Pilihlah aroma coklat yang kaya dan memabukkan yang membuat Anda ingin segera menyantapnya. Itu baru coklat yang bagus.

Tekstur
Bagaimana coklat terasa di mulut merupakan kunci keberhasilan industri ini. Orang suka dengan sensasi meleleh saat coklat masuk ke mulut. Faktanya adalah mentega kakao memiliki titik lebur yang sama dengan suhu tubuh kita.

Tekstur yang Anda cari sebaiknya sensasi leleh tersebut dan juga ledakan rasa. Hindari tekstur yang kasar atau seperti bubuk. Pilih yang kaya krim coklat dengan nuansa mentega dan rasa yang kompleks.

Potongan coklat
Belahlah menjadi kecil. Potongan yang bersih menunjukkan kualitas yang baik dari mentega kakao. Jika menggunakan lemak nabati atau lemak lainnya, maka coklat jika dibelah akan menimbulkan serpihan-serpihan atau sempalan. [mor]