HAMPIR setiap sudut rumah memungkinkan sebagai lokasi untuk memupuk keintiman bersama pasangan. Dari sekadar mencoba-coba, pelantun “Cinta Satu Malam” Melinda mengaku paling senang bercinta di bathtub.
"Aku paling senang bercinta di bathtub. Sensasinya dahsyat," kata Melinda saat berbincang di kantor redaksi okezone, Jalan Kebon Sirih, Jakarta, Rabu (12/10/2011).
Lebih lanjut, Melinda mengungkapkan riak air yang ditimbulkan dari aktivitas intim di bathtub dapat membuatnya turn on lebih cepat.
"Apalagi kalau kita mengisi dengan air hangat sampai penuh. Bunyi riak air saat bercinta bikin momen itu makin luar biasa," tutupnya.
(tty)
Jumat, November 18, 2011
Goda Dia di Ranjang, Semprotkan Parfum di Underwear
AROMA tubuh alami bercampur dengan keharuman parfum, ternyata menimbulkan sensasi tersendiri bagi pria. Di atas ranjang, trik menyemprotkan parfum pada celana dalam bagian luar bisa menjamin suami lebih “turn on” dari biasanya.
"Semprotkan sedikit di underwear sehingga celana menimbulkan keharuman yang ringan dan menyenangkan," papar Sonia Wibisono selaku pakar kesehatan pada peluncuran parfum “Bruggman, A'Lelga, dan Angelman' di The Only One Cafe, FX Lifestyle X'nter, Jakarta, belum lama ini.
Parfum membangkitkan feromon yang mengikat wanita dengan pria. Untuk kesan lebih harum, Sonia menyarankan parfum juga disemprotkan di beberapa bagian tubuh yang hangat.
"Kenakan di spot-spot yang hangat, tapi jangan ketiak. Kalau ketiak, hanya deodoran yang bisa 'berkuasa' di situ. Kenakan parfum di pergelangan tangan, belakang telinga, belakang siku, dan belakang lutut," tutupnya.
(tty)
"Semprotkan sedikit di underwear sehingga celana menimbulkan keharuman yang ringan dan menyenangkan," papar Sonia Wibisono selaku pakar kesehatan pada peluncuran parfum “Bruggman, A'Lelga, dan Angelman' di The Only One Cafe, FX Lifestyle X'nter, Jakarta, belum lama ini.
Parfum membangkitkan feromon yang mengikat wanita dengan pria. Untuk kesan lebih harum, Sonia menyarankan parfum juga disemprotkan di beberapa bagian tubuh yang hangat.
"Kenakan di spot-spot yang hangat, tapi jangan ketiak. Kalau ketiak, hanya deodoran yang bisa 'berkuasa' di situ. Kenakan parfum di pergelangan tangan, belakang telinga, belakang siku, dan belakang lutut," tutupnya.
(tty)
Jumat, November 04, 2011
Menyusui Cegah Darah Tinggi
Ibu yang tengah menyusui untuk priode masa tertentu, setidaknya dalam jangka enam bulan, kemungkinan menghadapi risiko tekanan darah tinggi yang lebih rendah.
Demikian hasil sebuah studi terhadap 50 ribu perempuan seperti dikutip Reuters.
Penemuan yang dipublikasikan di American Journal of Epidemiology itu menambahkan bukti bahwa menyusui memang bermanfaat baik buat ibu maupun bayi, kendati memang tidak ada bukti bahwa menyusui adalah penyebab langsung rendahnya tekanan darah tinggia.
Air susu ibu diyakini membantu melindungi bayi dari penyakit yang umum terjadi seperti diare dan infeksi gendang telinga. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui memiliki risiko yang lebih rendah untuk terkena diabetes, kolesterol tinggi dan serangan jantung di masa kehidupannya nanti.
"Perempuan yang tak pernah menyusui lebih rentan terkena hipertensi ketimbang perempuan yang menyusui anak pertama mereka selama enam bulan atau lebih," tulis pemimpin penelitian itu, Alison Stuebe, pada Universitas North Carolina, Chapel Hill.
Para pakar umumnya merekomendasikan bahwa bayi sebaiknya disusui selama enam bulan pertama usianya, lalu terus disusui sambil diasupi makanan sampai mereka berumur satu tahun.
Demi keperluan penelitian itu, Stuebe dan timnya mencermati hubungan menyusui dengan risiko tekanan darah tinggi pada sekitar 56.000 perempuan AS yang mengikuti penelitian jangka panjang bertajuk Health Study II. Semua perempuan itu setidaknya memiliki satu bayi.
Kesimpulannya, studi ini mendapati bahwa perempuan yang menyusui bayinya setidaknya selama enam bulan relatif kurang terkena risiko darah tinggi sepanjang 14 tahun daripada yang tidak menyusui bayinya.
Hampir 8.900 perempuan telah didiagnosa terkena tekanan darah tinggi. Namun risikonya menjadi lebih tinggi 22 persen pada perempuan yang tidak menyusui bayinya. Situasi sebaliknya terjadi pada perempuan yang menyusui bayinya selama enam bulan.
Mirip dengan itu, perempuan yang tidak pernah menyusui atau hanya menyusui selama tiga bulan atau kurang, ternyata hampir seperempat lebih tinggi terkena darah tinggi dibandingkan perempuan yang menyusui selama setidaknya setahun.
Stuebe menyatakan tak ada satu pun dari hasil penelitiannya yang membuktikan bahwa menyusui memberi perlindungan jangka panjang dalam terkena darah tinggi.
Menyusui memiliki kemanfaatan langsung, apalagi uji laboratorium menunjukkan bahwa hormon oksitosin yang dihasilkan dari menyusui, berdampak jangka panjang terhadap tekanan darah.
Juga diketahaui bahwa perempuan cenderung menghadapi merendahnya tekanan darah dalam jangka pendek, segera setelah menyusui.
"Jika menyusui faktanya protektif, tim Stuebe memperkirakan bahwa 12 persen tekakan darah tinggi pada banyak perempuan beranak, mungkin berkaitan dengan menyusui. Jika ini hubungan yang kebetulan, maka menyusui dapat menciptakan perbedaan untuk kesehatan perempuan," katanya seperti dikutip Reuters. (Sumber : Antara)
Demikian hasil sebuah studi terhadap 50 ribu perempuan seperti dikutip Reuters.
Penemuan yang dipublikasikan di American Journal of Epidemiology itu menambahkan bukti bahwa menyusui memang bermanfaat baik buat ibu maupun bayi, kendati memang tidak ada bukti bahwa menyusui adalah penyebab langsung rendahnya tekanan darah tinggia.
Air susu ibu diyakini membantu melindungi bayi dari penyakit yang umum terjadi seperti diare dan infeksi gendang telinga. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa perempuan yang menyusui memiliki risiko yang lebih rendah untuk terkena diabetes, kolesterol tinggi dan serangan jantung di masa kehidupannya nanti.
"Perempuan yang tak pernah menyusui lebih rentan terkena hipertensi ketimbang perempuan yang menyusui anak pertama mereka selama enam bulan atau lebih," tulis pemimpin penelitian itu, Alison Stuebe, pada Universitas North Carolina, Chapel Hill.
Para pakar umumnya merekomendasikan bahwa bayi sebaiknya disusui selama enam bulan pertama usianya, lalu terus disusui sambil diasupi makanan sampai mereka berumur satu tahun.
Demi keperluan penelitian itu, Stuebe dan timnya mencermati hubungan menyusui dengan risiko tekanan darah tinggi pada sekitar 56.000 perempuan AS yang mengikuti penelitian jangka panjang bertajuk Health Study II. Semua perempuan itu setidaknya memiliki satu bayi.
Kesimpulannya, studi ini mendapati bahwa perempuan yang menyusui bayinya setidaknya selama enam bulan relatif kurang terkena risiko darah tinggi sepanjang 14 tahun daripada yang tidak menyusui bayinya.
Hampir 8.900 perempuan telah didiagnosa terkena tekanan darah tinggi. Namun risikonya menjadi lebih tinggi 22 persen pada perempuan yang tidak menyusui bayinya. Situasi sebaliknya terjadi pada perempuan yang menyusui bayinya selama enam bulan.
Mirip dengan itu, perempuan yang tidak pernah menyusui atau hanya menyusui selama tiga bulan atau kurang, ternyata hampir seperempat lebih tinggi terkena darah tinggi dibandingkan perempuan yang menyusui selama setidaknya setahun.
Stuebe menyatakan tak ada satu pun dari hasil penelitiannya yang membuktikan bahwa menyusui memberi perlindungan jangka panjang dalam terkena darah tinggi.
Menyusui memiliki kemanfaatan langsung, apalagi uji laboratorium menunjukkan bahwa hormon oksitosin yang dihasilkan dari menyusui, berdampak jangka panjang terhadap tekanan darah.
Juga diketahaui bahwa perempuan cenderung menghadapi merendahnya tekanan darah dalam jangka pendek, segera setelah menyusui.
"Jika menyusui faktanya protektif, tim Stuebe memperkirakan bahwa 12 persen tekakan darah tinggi pada banyak perempuan beranak, mungkin berkaitan dengan menyusui. Jika ini hubungan yang kebetulan, maka menyusui dapat menciptakan perbedaan untuk kesehatan perempuan," katanya seperti dikutip Reuters. (Sumber : Antara)
Langganan:
Postingan (Atom)