MUSIM hujan segera tiba. Cuaca dingin akan terasa lebih hangat kalau bergumul dengan pasangan. Pastikan pasangan juga punya hasrat yang sama.
Temperatur udara sedang rendah, dan pasangan lebih pilih meringkuk di ranjang ketimbang berhubungan seks dengan Anda. Wah, keadaan ini harus segera dibenahi.
“Saat musim dingin, tingkat testosteron kebanyakan orang mengalami penurunan. Kondisi ini dapat menurunkan libido secara substansial,” kata Jed Diamond PhD, penulis buku “Irritable Male Syndrome”, seperti dikutip dari Women’s Health, Kamis (24/12/09).
Untuk itu, Anda harus memiliki strategi menyulutkan gairah Mr P-nya agar aksi ranjang tak terasa hambar. Beberapa ulasan trik berikut dapat Anda jadikan referensi.
Aksi nakal di depan mesin cuci
Bila tiap sudut rumah sudah menjadi saksi pergumulan Anda dan pasangan, bagaimana dengan bercinta di depan mesin cuci? Memang, terdengar tak biasa. Namun, bercinta di depan mesin cuci disinyalir dapat membuat aksi mencumbu semakin liar. Wow!
Saat mesin cuci dalam keadaan mengeringkan pakaian, mintalah pasangan untuk berdiri di dekat Anda. Kemudian, minta ia untuk melucuti helai demi helai pakaian Anda hingga tak tersisa.
Dalam keadaan sama-sama bugil, minta ia berdiri di antara kaki Anda. Lihatlah ekspresi kagetnya terhadap aksi nakal Anda. Hasrat untuk menjelajahi tiap inci Miss V Anda pun bisa takkan bisa ia tahan lagi.
“Anda dapat mengangkat salah satu kaki ke atas bahu pasangan untuk memberikan akses yang lebih mudah,” ujar Yvonne K Fulbright PhD, penulis buku "Touch Me There! A Hands-On Guide to Your Orgasmic Hot Spots".
Gunakan air hangat
“Sensasi hangat membawa darah ke permukaan kulit sekaligus meningkatkan sensitifitas,” ungkap Fulbright.
Ajak pasangan mandi bersama. Alirkan air hangat di sepanjang bagian sensitifnya, seperti leher, kuping, paha, dan Mr P. Anda berdua bisa saling menggosok bahu, punggung, dan bokong sehingga tubuh terasa lebih rileks. Tentu saja libidonya ikut terpancing.
Cara lainnya, sediakan secangkir teh panas ketika ia bangun tidur. Lalu, dekati bibir pasangan dan desirkan uap panas dari teh itu. Ia akan segera membaca sinyal Anda untuk mengajaknya bergumul. (lifestyle.okezone.com)
Kamis, Desember 24, 2009
Penyakit Penyerta pada Mata
AKIBAT terlalu seringnya memandang komputer, selain computer eye syndrome, seseorang bisa juga terpapar penyakit mata yang lain. Seseorang yang bekerja di kantoran bisa juga menderita dry eye syndrome, yaitu kumpulan gejala yang disebabkan keringnya permukaan kornea mata akibat lapisan tear film yang melembapkan dan melumaskan permukaan bola mata telah menjadi rusak.
Bisa pula seseorang menderita astenopia, yaitu kumpulan gejala yang terjadi akibat kelelahan mata karena aktivitas mata yang berlebihan dan kurang istirahat. Selain itu, bisa juga terpapar penyakit kelainan refraksi (antara lain miopia atau astigmatisme). Kelainan refraksi adalah adanya gangguan fokus pada penglihatan mata karena jatuh bayangan tidak tepat pada retina di dalam mata sebagai pusat penglihatan. Kelainan refraksi akan membuat penderitanya mengeluh penglihatan buram. Kelainan refraksi yang sering ditemukan akibat pekerjaan adalah miopia atau astigmatisme.
”Dry eye syndrome, astenopia, computer vision syndrome, kelainan refraksi miopia atau astigmatisme disebabkan faktor-faktor yang berada pada lingkungan kerja tersebut,” ujarnya. Pada penyakit mata dry eye, dapat disebabkan lingkungan kerja yang kelembaban udaranya kering akibat AC. Faktor risiko dry eye syndrome adalah terpapar udara kering dari AC secara berlebihan.
Udara kering tersebut akan menguapkan cairan dari pori-pori tubuh dan permukaan bola mata. Untuk menghindarinya, seseorang yang berada di ruangan AC yang cukup lama harus mengonsumsi cairan yang cukup.
”Selain dianjurkan mengonsumsi cairan yang cukup, apabila dirasakan mata mulai kering, kedipkanlah mata karena gerakan mengedip akan memompa tear film kembali untuk menyelubungi dan melumaskan bola mata,” pesannya.
Adapun astenopia dapat disebabkan mata kurang beristirahat setelah melihat komputer yang lama, fokus membaca tulisan atau angka-angka yang terlalu lama. Faktor risiko astenopia adalah penggunaan mata secara berlebihan dan kurang istirahat. Dalam pekerjaan administratif, kita dituntut untuk membaca atau membuat banyak tulisan. Huruf-huruf yang dipakai juga bervariasi dari ukuran kecil sampai besar.
Saat mata membaca tulisan tersebut dari jarak dekat atau jarak baca, mata kita melakukan proses akomodasi yang membutuhkan kerja dari otot-otot akomodasi di dalam mata. Apabila aktivitas akomodasi dilakukan terus-menerus, otot-otot tersebut akan kelelahan dan pada akhirnya daya akomodasi berkurang.
Apabila terjadi keletihan otot mata ini maka akan menyebabkan mata terasa iritatif, pegal, terkadang sedikit nyeri, dan dapat disertai penglihatan sedikit buram. Cara menghindarinya adalah dengan mengistirahatkan mata.
Metode mengistirahatkan mata ada berbagai macam yang pada intinya adalah melepaskan akomodasi di mata kita. Ada beberapa rumus yang dapat dipakai, yaitu “20-20-20”, setiap 20 menit melihat jauh pada jarak lebih dari tajam penglihatan 20/20 (atau enam meter), melihat jauh selama 20 detik. (lifestyle.okezone.com)
Bisa pula seseorang menderita astenopia, yaitu kumpulan gejala yang terjadi akibat kelelahan mata karena aktivitas mata yang berlebihan dan kurang istirahat. Selain itu, bisa juga terpapar penyakit kelainan refraksi (antara lain miopia atau astigmatisme). Kelainan refraksi adalah adanya gangguan fokus pada penglihatan mata karena jatuh bayangan tidak tepat pada retina di dalam mata sebagai pusat penglihatan. Kelainan refraksi akan membuat penderitanya mengeluh penglihatan buram. Kelainan refraksi yang sering ditemukan akibat pekerjaan adalah miopia atau astigmatisme.
”Dry eye syndrome, astenopia, computer vision syndrome, kelainan refraksi miopia atau astigmatisme disebabkan faktor-faktor yang berada pada lingkungan kerja tersebut,” ujarnya. Pada penyakit mata dry eye, dapat disebabkan lingkungan kerja yang kelembaban udaranya kering akibat AC. Faktor risiko dry eye syndrome adalah terpapar udara kering dari AC secara berlebihan.
Udara kering tersebut akan menguapkan cairan dari pori-pori tubuh dan permukaan bola mata. Untuk menghindarinya, seseorang yang berada di ruangan AC yang cukup lama harus mengonsumsi cairan yang cukup.
”Selain dianjurkan mengonsumsi cairan yang cukup, apabila dirasakan mata mulai kering, kedipkanlah mata karena gerakan mengedip akan memompa tear film kembali untuk menyelubungi dan melumaskan bola mata,” pesannya.
Adapun astenopia dapat disebabkan mata kurang beristirahat setelah melihat komputer yang lama, fokus membaca tulisan atau angka-angka yang terlalu lama. Faktor risiko astenopia adalah penggunaan mata secara berlebihan dan kurang istirahat. Dalam pekerjaan administratif, kita dituntut untuk membaca atau membuat banyak tulisan. Huruf-huruf yang dipakai juga bervariasi dari ukuran kecil sampai besar.
Saat mata membaca tulisan tersebut dari jarak dekat atau jarak baca, mata kita melakukan proses akomodasi yang membutuhkan kerja dari otot-otot akomodasi di dalam mata. Apabila aktivitas akomodasi dilakukan terus-menerus, otot-otot tersebut akan kelelahan dan pada akhirnya daya akomodasi berkurang.
Apabila terjadi keletihan otot mata ini maka akan menyebabkan mata terasa iritatif, pegal, terkadang sedikit nyeri, dan dapat disertai penglihatan sedikit buram. Cara menghindarinya adalah dengan mengistirahatkan mata.
Metode mengistirahatkan mata ada berbagai macam yang pada intinya adalah melepaskan akomodasi di mata kita. Ada beberapa rumus yang dapat dipakai, yaitu “20-20-20”, setiap 20 menit melihat jauh pada jarak lebih dari tajam penglihatan 20/20 (atau enam meter), melihat jauh selama 20 detik. (lifestyle.okezone.com)
Dampak Negatif Era Serbakomputer
TERLALU lama memandangi komputer akan membuat mata dan badan Anda lelah. Bila itu terjadi pada Anda, segeralah periksa. Siapa tahu Anda mengalami computer vision syndrome.
Hampir setiap hari Pinta Oktorina selalu mengeluhkan matanya yang sering terasa sakit. Perempuan yang berprofesi sebagai secretary vice president salah satu bank swasta ini tak hanya lelah, dia juga sering merasakan pusing dan otot-otot di sekitar punggung terasa pegal. “Sangat mengganggu banget deh kalau penyakit ini sudah datang, saya jadi susah berkonsentrasi,” tutur lajang berusia 25 tahun ini.
Tak tahan dengan rasa sakit yang terus menderanya, dia pun memeriksakan mata. Dokter mengatakan bahwa Pinta terkena gejala computer vision syndrome. Dokter menyarankan Pinta untuk sering-sering mengistirahatkan matanya dari layar komputer.
Problem kesehatan mata yang dialami Pinta tersebut mungkin juga dialami jutaan orang di Indonesia, apalagi mereka pegawai kantoran yang setiap hari bekerja di depan layar komputer. Saat ini, di era serbakomputer, jenis pekerjaan juga mengikutinya. Zaman dahulu lebih banyak menggunakan fisik dan padat tenaga kerja, sementara pekerjaan zaman sekarang lebih banyak menggunakan soft skill yang membutuhkan kreativitas dan kesehatan mata yang baik.
”Adapun lingkungan kerja pun juga menjadi berubah, misal dari yang semula lebih banyak outdoor menjadi lebih banyak indoor, dan juga bisa memengaruhi mata,” tutur ahli mata dari Universitas Indonesia, dr Cosmos Octavianus Mangunsong SpM.
Dia menambahkan, semakin tinggi tanggung jawab seseorang dalam pekerjaannya, semakin membutuhkan kesehatan mata yang optimal. Teknologi untuk memudahkan pekerjaan saat ini, mempunyai faktor risiko untuk menurunkan kesehatan mata.
”Berbeda lingkungan kerja maka berbeda pula penyakit mata yang ditimbulkan akibat kerja,” tandas dokter yang berpraktik di Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Misal dalam lingkungan pekerjaan administratif perkantoran, Cosmos menuturkan, beberapa penyakit mata akibat kerja yang sering timbul adalah computer vision syndrome. Sindrom itu artinya suatu kumpulan gejala. Computer vision syndrome adalah suatu kelainan yang merupakan kumpulan gejala disebabkan pemakaian komputer secara berlebihan.
”Kumpulan gejala itu meliputi pusing, kelelahan mata yang bisa mengakibatkan rasa nyeri atau iritasi, mata kering, leher yang kaku atau pegal, dan mata menjadi buram atau tidak fokus,” jelas dokter mata yang juga menjadi konsultan Health Marketing.
Pada waktu memakai komputer, mata berada dalam keadaan akomodasi agar mata kita mampu membaca dari jarak baca normal yaitu 30-33 cm. Namun demikian, jarak mata kita ke layar komputer tidak selalu 30–33 cm bisa lebih jauh atau lebih dekat. Aktivitas menggunakan komputer termasuk melihat dekat yang membutuhkan daya akomodasi.
Keadaan akomodasi terus menerus dapat membuat keletihan pada otot-otot akomodasi mata. Selain itu, saat kita berkonsentrasi di depan komputer maka jumlah kedipan mata berkurang.Sewaktu mata berkedip maka akan dipompa oleh air mata berupa tear film yang segar dan segera menyelubungi permukaan bola mata.
Sementara itu, kurangnya jumlah kedipan akan membuat permukaan bola mata lebih kering dan terasa iritatif. Selain itu, menatap layar komputer secara terus-menerus juga akan membuat otot-otot leher kita menjadi tegang. Begitu juga otot-otot di punggung. Keadaan kursi yang tidak nyaman dan tidak ergonomis dapat membuat otot tubuh kita pegal dan terkadang disertai nyeri.
”Kumpulan gejala astenopia, dry eye, gejala otot leher, dan pundak pegal, serta pusing, dan mata menjadi buram merupakan kumpulan gejala yang dapat terjadi pada computer eye sindrome,” papar dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia ini.
Computer vision syndrome adalah kumpulan gejala gabungan dari gejala-gejala dry eye syndrome, astenopia, dan gejala keletihan otot tubuh terutama di bagian leher, punggung , dan pundak. Cara menghindarinya adalah dengan menghindari faktor risiko dry eye syndrome dan astenopia ditambah sedikit pelenturan otot daerah leher dan pundak.
”Untuk menghindarinya, di antaranya adalah dengan tidak terekspos oleh faktor risiko secara berlebihan,” pesan Cosmos. (lifestyle.okezone.com)
Hampir setiap hari Pinta Oktorina selalu mengeluhkan matanya yang sering terasa sakit. Perempuan yang berprofesi sebagai secretary vice president salah satu bank swasta ini tak hanya lelah, dia juga sering merasakan pusing dan otot-otot di sekitar punggung terasa pegal. “Sangat mengganggu banget deh kalau penyakit ini sudah datang, saya jadi susah berkonsentrasi,” tutur lajang berusia 25 tahun ini.
Tak tahan dengan rasa sakit yang terus menderanya, dia pun memeriksakan mata. Dokter mengatakan bahwa Pinta terkena gejala computer vision syndrome. Dokter menyarankan Pinta untuk sering-sering mengistirahatkan matanya dari layar komputer.
Problem kesehatan mata yang dialami Pinta tersebut mungkin juga dialami jutaan orang di Indonesia, apalagi mereka pegawai kantoran yang setiap hari bekerja di depan layar komputer. Saat ini, di era serbakomputer, jenis pekerjaan juga mengikutinya. Zaman dahulu lebih banyak menggunakan fisik dan padat tenaga kerja, sementara pekerjaan zaman sekarang lebih banyak menggunakan soft skill yang membutuhkan kreativitas dan kesehatan mata yang baik.
”Adapun lingkungan kerja pun juga menjadi berubah, misal dari yang semula lebih banyak outdoor menjadi lebih banyak indoor, dan juga bisa memengaruhi mata,” tutur ahli mata dari Universitas Indonesia, dr Cosmos Octavianus Mangunsong SpM.
Dia menambahkan, semakin tinggi tanggung jawab seseorang dalam pekerjaannya, semakin membutuhkan kesehatan mata yang optimal. Teknologi untuk memudahkan pekerjaan saat ini, mempunyai faktor risiko untuk menurunkan kesehatan mata.
”Berbeda lingkungan kerja maka berbeda pula penyakit mata yang ditimbulkan akibat kerja,” tandas dokter yang berpraktik di Klinik Dokter Keluarga Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.
Misal dalam lingkungan pekerjaan administratif perkantoran, Cosmos menuturkan, beberapa penyakit mata akibat kerja yang sering timbul adalah computer vision syndrome. Sindrom itu artinya suatu kumpulan gejala. Computer vision syndrome adalah suatu kelainan yang merupakan kumpulan gejala disebabkan pemakaian komputer secara berlebihan.
”Kumpulan gejala itu meliputi pusing, kelelahan mata yang bisa mengakibatkan rasa nyeri atau iritasi, mata kering, leher yang kaku atau pegal, dan mata menjadi buram atau tidak fokus,” jelas dokter mata yang juga menjadi konsultan Health Marketing.
Pada waktu memakai komputer, mata berada dalam keadaan akomodasi agar mata kita mampu membaca dari jarak baca normal yaitu 30-33 cm. Namun demikian, jarak mata kita ke layar komputer tidak selalu 30–33 cm bisa lebih jauh atau lebih dekat. Aktivitas menggunakan komputer termasuk melihat dekat yang membutuhkan daya akomodasi.
Keadaan akomodasi terus menerus dapat membuat keletihan pada otot-otot akomodasi mata. Selain itu, saat kita berkonsentrasi di depan komputer maka jumlah kedipan mata berkurang.Sewaktu mata berkedip maka akan dipompa oleh air mata berupa tear film yang segar dan segera menyelubungi permukaan bola mata.
Sementara itu, kurangnya jumlah kedipan akan membuat permukaan bola mata lebih kering dan terasa iritatif. Selain itu, menatap layar komputer secara terus-menerus juga akan membuat otot-otot leher kita menjadi tegang. Begitu juga otot-otot di punggung. Keadaan kursi yang tidak nyaman dan tidak ergonomis dapat membuat otot tubuh kita pegal dan terkadang disertai nyeri.
”Kumpulan gejala astenopia, dry eye, gejala otot leher, dan pundak pegal, serta pusing, dan mata menjadi buram merupakan kumpulan gejala yang dapat terjadi pada computer eye sindrome,” papar dokter yang tergabung dalam Ikatan Dokter Indonesia ini.
Computer vision syndrome adalah kumpulan gejala gabungan dari gejala-gejala dry eye syndrome, astenopia, dan gejala keletihan otot tubuh terutama di bagian leher, punggung , dan pundak. Cara menghindarinya adalah dengan menghindari faktor risiko dry eye syndrome dan astenopia ditambah sedikit pelenturan otot daerah leher dan pundak.
”Untuk menghindarinya, di antaranya adalah dengan tidak terekspos oleh faktor risiko secara berlebihan,” pesan Cosmos. (lifestyle.okezone.com)
Langganan:
Postingan (Atom)