Kamis, November 18, 2010

Perempuan yang Stres Bekerja Lebih Rentan Sakit Jantung

Perempuan yang memiliki pekerjaan dengan stres tinggi dan memberi sedikit ruang baginya untuk membuat keputusan atau kreativitas mempunyai resiko penyakit jantung -- dan ini bahkan makin buruk bila tertekan berpikir akan kehilangan pekerjaan, menurut penelitian.

Hubungan antara penyakit jantung dan tekanan pekerjaan sudah jelas pada laki-laki, tetapi masih belum jelas apakah hal tersebut berlaku juga pada perempuan, kata Michelle Asha Albert, seorang dokter spesialis jantung di Rumah Sakit Perempuan dan Brigham di Boston.

Mengenai perempuan dan penyakit jantung, para dokter biasanya terfokus pada faktor resiko umum seperti tekanan darah tinggi dan kolesterol, tetapi dalam penelitian itu, yang dikemukakan dalam pertemuan Asosiasi Jantung Amerika di Chicago pada Selasa, menunjukkan kemungkinan akan menapik faktor stres.

"Kami tidak terfokus telalu banyak pada stres. Stres juga menyebabkan resiko besar yang serupa dengan faktor resiko tambahan lainnya," katanya kepada Reuters Health.

Albert mengepalai tim penelitian itu yang meneliti lebih dari 17.000 pekerja kesehatan perempuan selama 10 tahun terakhir.

Ada 134 kasus serangan jantung, perempuan dengan pekerjaan yang memiliki stres tinggi 88 persen lebih rentan terkena sakit jantung daripada yang perempuan yang jenis pekerjaannya stress rendah. Mereka juga cenderung akan melakukan pengobatan operasi jantung.

Namun ketakamanan pekerjaan -- mencemaskan akan kehilangan pekerjaan -- tidak tampak memiliki pengaruh yang sama.

Meski belum ada data akan keefektifan pengurangan stres, Albert menyarankan perempuan yang tertekan dengan pekerjaannya mencoba meningkatkan aktivitas fisik dan membangun jaringan sosial lebih luas.

"Semua orang harus memikirkan hal ini, tidak hanya perempuan semata," kata Albert.

Penghilang Rasa Sakit Bisa Ganggu Alat Reproduksi

Penggunaan obat penghilang rasa sakit ringan seperti parasetamol, aspirin dan ibuprofen selama kehamilan sebagian bisa meningkatkan risiko gangguan alat reproduksi pada bayi laki-laki.

Penelitian ini menemukan fakta bahwa wanita yang mengambil kombinasi lebih dari satu analgesik ringan selama kehamilan memiliki peningkatan risiko melahirkan anak dengan testis tidak turun.

Kondisi ini disebut kriptorkismus, yang dikenal sebagai faktor risiko untuk kualitas air mani yang buruk dan risiko lebih besar terkena kanker testis di kemudian hari.

Para peneliti dari Finlandia, Denmark dan Prancis, yang karyanya telah diterbitkan dalam jurnal Human Reproduction, mengatakan studi lebih banyak dibutuhkan untuk menyarankan kepada wanita hamil untuk mempertimbangkan kembali penggunaan obat penghilang rasa sakit.

"Perempuan mungkin ingin mencoba mengurangi penggunaan analgesik mereka selama kehamilan," kata Henrik Leffers dari Kopenhagen Rigshospitalet, yang memimpin penelitian. "Namun kami merekomendasikan agar wanita hamil mencari nasihat dari dokter mereka."

Menurut tim Leffers, lebih dari separuh wanita hamil di negara-negara Barat dilaporkan mengonsumsi analgesik ringan.

Umumnya dokter mengatakan bahwa wanita harus menghindari obat-obatan saat hamil. Namun parasetamol, ibuprofen, dan aspirin, dianggap aman dalam beberapa kondisi dan waktu tertentu.

Kriptorkismus telah ditemukan mempengaruhi satu dari 11 anak laki-laki di Skandinavia,

Para peneliti mengatakan beberapa penelitian telah menunjukkan penurunan global dalam jumlah sperma, meskipun penelitian lain membantah temuan ini dan peneliti tidak setuju pada apakah ada perubahan terukur secara global.

Studi ini melibatkan dua kelompok perempuan, 834 di Denmark dan 1.463 di Finlandia, yang mempertanyakan tentang penggunaan obat selama kehamilan.

Saat bayi laki-laki mereka diperiksa terlihat tanda-tanda kriptorkismus, mulai dari bentuk ringan dari kondisi di mana testis berlokasi tinggi di skrotum menjadi bentuk yang lebih parah.

Penelitian berlatar kerja sama para ilmuwan di Denmark dan Prancis yang mempelajari tikus dan menemukan bahwa analgesik menyebabkan pasokan tidak mencukupi dari testosteron hormon laki-laki selama periode penting kehamilan, yakni saat membentuk organ laki-laki.

Para peneliti mengatakan efek analgesik pada tikus adalah sebanding dengan yang disebabkan oleh dosis serupa hormon yang dikenal, atau endokrin, disrupters seperti phthalates - keluarga bahan kimia yang digunakan dalam pembuatan plastik seperti PVC.

Hasil studi pada manusia menunjukkan bahwa wanita yang menggunakan lebih dari satu obat penghilang rasa sakit secara simultan memiliki peningkatan risiko tujuh kali lipat melahirkan anak dengan beberapa bentuk kriptorkismus dibandingkan perempuan yang tidak mengambil apa-apa.

Trimester kedua tampaknya menjadi waktu sangat sensitif, dengan penggunaan simultan lebih dari satu obat penghilang rasa sakit selama periode ini terkait peningkatan 16 kali lipat risiko.

"Meskipun kita harus berhati-hati, penggunaan analgesik ringan sejauh ini membuat paparan terbesar pada endokrin wanita hamil, dan penggunaan senyawa ini kini merupakan saran terbaik untuk eksposur yang dapat mempengaruhi sebagian besar populasi manusia," kata Leffers.

Ahli lain mengatakan bahwa temuan ini mencolok tetapi harus diinterpretasikan dengan hati-hati.

"Studi ini menambahkan bukti tentang efek obat terhadap perkembangan janin, Namun, karena keterbatasan studi, penelitian lebih lanjut diperlukan untuk menarik kesimpulan pasti tentang efek obat penghilang rasa sakit pada kesuburan pria," kata Neal Patel dari Royal Pharmaceutical Society.

Allan Pacey dari Inggris Universitas Sheffield mengatakan temuan itu 'agak mengkhawatirkan'.

"Perlu dicatat para peneliti menemukan perbedaan yang signifikan ketika perempuan telah menggunakan obat penghilang rasa sakit selama dua minggu atau lebih, dan itu berdampak terbesar ketika mengambil mereka selama trimester kedua. Jelas penelitian lebih lanjut diperlukan sebagai suatu prioritas," katanya. [mor]

Jangan Frustasi dengan Pria Tertutup

Pasangan pria Anda lebih memilih berdiam ketimbang membuka diri? Sebagai perempuan, Anda kerapkali merasa frustrasi ketika menghadapi sikap pria yang menutup diri.

Inilah tips yang perlu dimiliki oleh setiap perempuan jika ingin disebut 'perempuan lengkap'.

Buku Life is Huge yang ditulis Susan Jeffers menyatakan bahwa penting bagi setiap perempuan mengubah onggokan harapan yang selama ini ia hidupi dari hari ke hari.

Alasannya, dalam banyak kebudayaan, pria memang dilatih bersikap terbuka, namun mereka terhambat oleh cara pengungkapannya secara verbal. Jangan jemu membantu pria pasangan Anda untuk mengutarakan apa yang mereka alami dan mereka rasakan.

Penting, bahwa perempuan menghargai setiap upaya pria ketika mengekspresikan perasaannya, misalnya memberi hadiah, menelepon dan mengirim e-mail atau layanan pesan singkat (SMS), melaporkan setiap kegiatan keseharian, dan memberi berbagai sentuhan kepada Anda sebagai perempuan.

Pempuan hendaknya memahami sisi indahya berdiam diri (the beauty of silence) dari pria. Berkacalah dan ajukanlah pertanyaan reflektif, "Mengapa sebagai perempuan, saya merasa terganggu dengan sikap diam pria?"

Jika suatu ketika Anda tidak kuasa berkata-kata, ambillah sikap rileks dan fokuskan diri kepada apa yang dikatakan pria. Kepada pria buah hati Anda itu, katakanlah berulangkali dalam hati "Aku mencintaimu". Rasakanlah sentuhan energi cinta di sekujur tubuh.

Tidak jarang pria mengutarakan segala kegundahan dan kekhawatirannya. Itulah saatnya Anda sebagai perempuan belajar mencintai sisi kemanusiaan dari seorang pria. Itulah saatnya Anda membuka dan menjalin pembicaraan secara intensif.

Sebagai perempuan, hindarilah sikap menghakimi, defensif, dan menunjukkan superioritas ketika pria mulai menutup diri.

Sikap-sikap itu hanya menggambarkan bahwa Anda tidak ingin terlibat lebih jauh dengan hidupnya. Boleh jadi Anda sendiri tidak merasa aman bersama pria yang Anda kasihi itu.

Ingatlah bahwa saatnya Anda melakoni waktu senggang. Perempuan kerapkali bimbang akan apa yang diinginkan dan diharapkan oleh pria dari sebuah jalinan hubungan, entah itu perkawinan atau persahabatan.

Ketika Anda bimbang, maka pria akan dapat menangkap sinyal itu. Inilah saatnya Anda bercermin diri dan berefleksi dengan berkata, "Apa yang sesungguhnya saya harapkan dari hubungan ini?"

Banyak dari perempuan cenderung terlalu banyak berbicara. Ini jelas menggambarkan siapa diri Anda sesungguhnya. Berhentilah berbicara terlalu banyak. Dengan berdiam sejenak, Anda dapat memberi ruang bagi pikiran jernih, dan hati bening.

Sebagai perempuan, Anda trampil bersikap sabar. Ada baiknya Anda belajar membuka diri dari teman perempuan. Hal serupa juga ditempuh kebanyakan pria. Ada saatnya kita perlu merasa nyaman dengan saling membuka diri.

Kita tidak dapat mengubah seorang pria, bila Anda sebagai perempuan tidak mengubah diri lebih dulu. Dengan memperbaiki diri sendiri, kita perempuan dapat membuka pintu hati pria.

Ini saatnya membuka dan menanggalkan topeng, apalagi pria itu berikrar menjadi "soulmate sepanjang hayat. [*/mor]