Kamis, April 01, 2010

Kejutan Unik Bikin Pria Cepat Orgasme

BERCINTA tanpa sensasi memang terasa membosankan. Menyuguhkan kejutan unik untuk memacu gairah seks pria cepat menyala menjadi kunci utama.

Tampil dengan busana seksi dan transparan, misalnya. Konon, pria tak bisa menahan hasrat seksualnya saat melihat pasangannya tampil tidak biasa. Alhasil, ajakan untuk bercinta menjadi cara pria menyalurkan libido agar cepat orgasme.

Tak cukup mengenakan busana seksi, Anda pun harus memiliki segudang trik jitu lainnya sebagai pelengkap aksi Anda yang terbilang ”liar”. Bingung meluapkan ekspresi liar Anda di hadapan pasangan? Anda bisa mempelajari cara-caranya yang dirangkum Cosmopolitan, di antaranya:

Duduk di pangkuan pasangan
Jika selama ini kalian hanya terpaku di atas ranjang, maka sudah saatnya Anda melakukan perubahan. Ini saatnya Anda mengubah suasana menjadi lebih hangat. Anda bisa memulainya dengan duduk di pangkuan pasangan sambil bergelayut mesra, bersikaplah sedikit manja. Jadikan permainan menjadi panas atas ulah ”liar” jemari Anda yang berusaha membuka celana pasangan sambil menciumi leher pasangan.

Lingerie seksi
Untuk merangsang gairah seksnya, biarkan pasangan melihat keindahan lekuk tubuh Anda yang indah. Cukup gunakan bra dan celana dalam warna merah menggoda. Untuk mempercantik penampilan Anda, jangan lupa pulaskan make up natural serta gunakan atribut sepatu hak tinggi, agar kesan seksi yang Anda tonjolkan berhasil membuatnya terpesona.

Rok Mini
Tak hanya busana seksi, rok mini juga menjadi salah satu atribut paling mudah menyedot perhatian pria. Cenderungnya kaum adam begitu tergoda ketika melihat pasangannya mengenakan rok mini. Pasalnya, kehadiran rok mini selalu mendorong para pria menjadi nakal dan ingin mengintip bagian tersembunyi milik wanita yang berada di dalam rok mini.
(tty)

Oseng Teri Jengki

IKAN kecil yang gurih ini bisa kita masak dengan cara dioseng. Praktis dan nikmat disantap.

Bahan-bahan:
- 1 ons ikan teri jengki
- 2 siung bawang merah (cincang halus)
- 2 buah bawang putih (cincang halus)
- 5 buah cabe gendot (iris sesuai selera)
- 1 buah tomat ukuran sedang (iris sesuai selera)
- Garam dan merica secukupnya

Cara membuat:
- Cuci ikan teri dengan sedikit air agar tidak terlalu asin.
- Goreng ikan teri hingga kering atau sesuai selera, sisihkan.
- Tumis bawang putih dan bawang merah hingga harum, masukkan cabe dan tomat. - Tumis hingga layu lalu tambahkan garam dan merica.
- Masukkan ikan teri yang telah digoreng, aduk hingga merata dengan bumbu.
- Tambahkan sedikit air lalu aduk kembali dan biarkan hingga air menyusut dan bumbu meresap.
- Oseng Teri Jengki siap disajikan dengan nasi panas. [www.inilah.com]

Solusi Kanker Payudara tak Perlu Ekstrem

Hasil riset terbaru menunjukkan, perempuan dengan mutasi gen yang mengarah pada kanker payudara tak perlu memotong payudara untuk menyelamatkan nyawa.

Dalam sebuah studi kecil terhadap perempuan dengan mutasi gen kanker payudara dan beberapa tipe pengobatan kanker, pasien memiliki risiko 2-4 empat kali muncul kembali sel kanker. Hal itu terjadi jika mereka hanya menyingkirkan jaringan kanker, bukan seluruh payudara.

Namun, kesempatan selamat mereka setelah 15 tahun hampir sama. Meski studi ini belum bisa membuktikan salah satu cara pengobatan lebih baik ketimbang lainnya. Hasil ini dipresentasikan pada akhir pekan lalu, dalam sebuah konferensi kanker payudara di Barcelona, Spanyol.

Riset yang lebih besar lagi membuktikan bahwa melakukan lumpektomi yang diikuti dengan radiasi sama efektifnya dengan masektomi bagi perempuan di tahap awal kanker payudara. Meski begitu, tak diketahui apakah gen si perempuan mempengaruhi dan berujung pada kanker.

Lumpektomi juga seringkali dilengkapi dengan kemoterapi dan perawatan kanker seperti tamoxifen, meski bergantung pada ukuran, tipe, dan penyebaran kanker.

Dr Lori Pierce, dosen Radiasi Onkologi di University of Michigan dan koleganya meneliti 655 pasien kanker payudara di Australia, Israel, Spanyol dan AS. Semua penderita ini memiliki mutasi genetis yang berarti risiko kanker lebih tinggi.

Setelah 15 tahun, perempuan yang diangkat payudaranya memiliki kemungkinan 6% kembalinya sel kanker dibandingkan 24% perempuan yang tak mengangkat payudaranya. Kelompok kedua menambahkan kemoterapi menurunkan risiko mereka hingga 12%.

Perbedaan kesempatan hidup juga berbeda meski sedikit. Pada perempuan yang tak mengangkat payudara mereka, sebanyak 87% dan 89% bagi yang telah melakukan bedah drastis, setelah 15 tahun. Perbedaannya memang tidak signifikan, namun sedikitnya angka kematian dalam studi ini mempersulit periset.

"Terapi payudara konservasi dengan kemoterapi dan terapi hormon merupakan alternatif masuk akal,” kata Pierce.

Sementara para dokter mengatakan, temuan Pierce seharusnya disesuaikan dengan pasien kanker payudara saat ini. “Sebab ada data di mana perempuan mempertahankan payudaranya dan keadaan tidak memburuk bagi mereka,” kata Kepala Radiasi dan Onkologi di Institut Curie Paris, Dr. Alain Fourquet. Ia tidak terlibat dalam studi yang dilakukan Pierce.

Fourquet mengatakan, secara genetis terpapar terhadap kanker payudara merupakan hal yang tidak terlalu penting untuk menentukan langkah selanjutnya, begitu seorang perempuan terdiagnosa kanker payudara. Demikian pula dengan keputusan mengangkat payudara, tak seharusnya berdasarkan gen seseorang.

Maria Leadbeater, perawat klinik Breast Cancer Care yang merupakan sebuah yayasan di Inggris berpendapat, temuan ini mengubah cara diskusi para dokter dengan pasien kanker payudara. Dokter kini bisa memberikan pertimbangan untuk pemikiran dan keinginan pasien.

"Jika kedua cara itu sama efektifnya, maka apa yang diinginkan pasien menjadi sesuatu yang lebih penting," pungkasnya. [www.inilah.com]